Kereta
api yang kutumpangi melaju dengan kencang memecah kegelapan malam melewati
sawah-sawah yang tampak gelap diluar sana. Sepi, seperti aku kesepian dalam
kereta kelas eksekutif yang penuh dengan penumpang ini. Kereta api memang
kendaraan favoritku selain bis malam untuk pulang kampung, ke Jakarta !!??. Sebagai
anak kos-kosan dengan isi kantung terbatas cukuplah uang tabunganku untuk
pulang setiap libur semester dengan menumpang kereta api kelas eksekutif
ataupun bis malam kelas super eksekutif.
Padahal untuk naik kereta api
eksekutif ini aku harus rela mengeluarkan ongkos tambahan untuk naik travel ke
Surabaya karena kereta eksekutif tidak ada yang berangkat ataupun lewat Malang.
Tapi apalah artinya ongkos tambahan bila dibanding dengan suasana berjubel yang
harus aku rasakan dengan naik kereta kelas ekonomi yang tidak dapat membuatku
tidur selama perjalanan dari Malang sampai Jakarta karena kursi yang posisinya
tegak lurus, belum lagi para pedagang yang teriak-teriak menawarkan barang dagangannya.
Huh!! Tak tahu apa orang-orang itu kalau penumpang masih harus menempuh
perjalanan selama 16 jam tanpa bisa tidur kalau mereka teriak-teriak dan mondar
mandir sehingga membuat suasana tidak nyaman apalagi aman bagi penumpang. Tapi
maklumlah mereka juga butuh uang untuk menafkahi keluarga. Yah itulah memang
kondisi transportasi umum yang ada di negara tercinta yang sesungguhnya kaya
ini, angkutan umum jarak jauh sekalipun bukan jaminan dapat memberi penumpang
rasa nyaman dan aman… tidak jauh berbeda dengan naik bis kota jurusan Kampung Rambutan
- Blok M. Jadi kalau para penguasa negeri yang kaya dengan emas yang bisa
diambil dari sungai dengan sebuah wajan yang biasa ada di dapur untuk
menggoreng tahu, yang timahnya tampak berkilauan dari kejauhan tak hentinya menghimbau
masyarakat untuk menggunakan transportasi umum. Himbauan tersebut sebenarnya
hanyalah sebuah upaya untuk mengurangi masalah kemacetan. Pada kenyataannya penumpang tidak mendapatkan rasa nyaman dan
aman, maka entah kapan negeri ini akan mampu terbebas dari masalah macet,
krisis energi, polusi, dan entah apa lagi berbagai dampak negatif dari
globalisasi. Klise sebenarnya.. karena keluhan tentang transportasi umum
sebenarnya sudah menjadi lagu lama, tapi klise yang sama juga selalu digunakan
untuk menghasilkan foto kehidupan yang sama sampai menjadi usang dan tidak
diperhatikan lagi. Bahkan sebanyak apapun rakyat yang sudah naik bis kota
sampai bergelantungan di bawah ketiak orang yang sudah baunya sudah tak karuan
karena parfum yang dipakai mulai jam 5 pagi tadi saat berangkat kerja sampai
pulang larut malam sudah menguap, tetap saja tidak akan seimbang dengan jumlah
kendaraan yang terus diproduksi dan dibeli oleh masyarakat yang berdaya beli
tinggi.
Aku kembali ke Jakarta,
kota dimana aku tinggal sejak SD sampai sekarang, walaupun sekarang aku pulang
ke Jakarta hanya saat libur semester. Ya, aku sekarang melanjutkan kuliah di
kota Malang yang sejuk dan tenang. Aku kembali ke Jakarta setiap libur semester
karena orangtuaku masih tinggal disana. Walaupun aku betah tinggal untuk
belajar di kota yang sejuk dan tenang seperti Malang, namun aku selalu rindu
untuk selalu pulang ke Jakarta, kota dimana aku dibesarkan. Walaupun banyak
orang yang tidak biasa tinggal di Jakarta selalu beranggapan kota itu begitu
sibuk, padat dan semrawut, namun tidak mempengaruhi kerinduanku untuk selalu
pulang dan mencintai Jakarta.
Kereta api-ku sekarang
memasuki Yogyakarta, kulihat papan nama di stasiun yang baru dimasuki. Aku
menggeliatkan badan untuk sedikit mengurangi penat selama 8 jam perjalanan. Yah
masih kira-kira 7 sampai 8 jam lagi aku harus duduk dalam kereta api ini, namun
aku sudah tidak bisa memejamkan mata lagi. Aku begitu rindu dan tak sabar untuk
segera tiba di Jakarta dan kembali bertemu dengan orangtua serta
sahabat-sahabatku.
Memang banyak sahabatku
yang masih tinggal di Jakarta, ada Ayu, Ebeth, dan sahabatku yang paling dekat
adalah Runi. Runi adalah sahabatku sejak di bangku SMP. Persahabatanku dengan
Runi berawal ketika aku memergokinya sedang berjualan di pasar. Runi berjualan
berbagai jenis bumbu seperti cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe,
lengkuas dan sebagainya di pasar.
“Braa..kk..!!”
“Aduh..rusak
daganganku, kamu ini kerja kok gak becus sih!!!” terdengar jeritan amarah
wanita tua penjual bumbu dapur yang ada di depanku.
“Maaf bu.. saya tidak
sengaja” suara seseorang yang seperti pernah kudengar terasa begitu ketakutan
sambil tangannya mengumpulkan barang dagangan yang jatuh berserakan.
Ternyata suara itu adalah
milik Runi, teman sekelasku di sekolah. Aku terkejut melihat Runi yang tak
tampak terkejut melihatku, dia justru berusaha menghindar dari tatapanku,
tampak begitu malu dan ketakutan karena dimarahi pemilik toko.
“Runi..!! Aku berusaha
memanggilnya ketika wanita gemuk pemilik toko sedang melayani pembeli lain
sehingga untuk sementara omelan terhenti dari mulutnya. Runi menoleh sebentar
tapi dia tampak pura-pura tidak mengenalku.
Aku tak sempat bertanya
lebih lanjut karena ibu menarik lenganku untuk segera beranjak dari los untuk
menuju los di bagian lain pasar yang bau itu.
Selama ini aku dan Runi
memang tidak terlalu akrab. Aku punya kelompok teman-teman akrab sendiri
walaupun sebenarnya aku juga tak pernah pilih-pilih dalam berteman, tapi secara
alamiah seleksi alam terkelompoklah teman-teman akrab itu, teman-teman yang
merasa sama dalam visi dan misi, seperti awal mula terbentuknya organisasi. Yah
aku dan kelompok teman-temanku akhirnya menjadi pengelola majalah dinding
pertama di sekolahku.
Runi sepanjang yang
kutahu selama ini anak yang agak pendiam namun karya-karya puisinya dengan
rutin mengisi mading yang aku kelola
bersama dengan teman-temanku. Aku lebih mengenal Runi lewat karya-karyanya
dibanding mengenalnya secara pribadi.
Di hari Senin pagi
sebelum upacara bendera aku mencoba untuk mendekati dan mengajaknya bicara.
“Run..” dia hanya
menoleh sebentar tanpa senyum, yang tampak hanya wajah malu dan kemudian
tertunduk lagi.
“Kemarin aku melihatmu
di toko di Pasar Pondok”.
Pasar Pondok adalah sebutan
singkat untuk Pasar Pondok Gede dimana kami para warga Pondok Gede, Pondok
Jati, Jati Waringin, Jati Rahayu dan sekitarnya berbelanja selain belanja pada
pedagang sayur yang lewat setiap hari.
“Selama ini setiap aku
ke pasar tidak pernah melihatmu, baru kemarin aku melihatmu di toko itu”.
Runi masih tertunduk
malu sampai kudengar suaranya lirih
“Apa kamu ingin
mengolok-olok aku, Han?”
“Apa kamu malu punya
teman menjadi pelayan toko di pasar?”
Kali ini Runi menatapku
dengan sinis dan nada ketus pada suaranya.
“Kenapa kau berpikiran
buruk padaku Run? Aku sama sekali tidak berprasangka apapun tentangmu, aku
hanya ingin ngobrol denganmu”.
Selama ini Runi
ternyata menjadi pelayan di toko di Pasar Pondok Gede jika hari Minggu untuk
membantu orangtuanya menambah penghasilan. Bapak Runi bekerja sebagai kondektur
bis kota jurusan Kampung Rambutan – Blok M. Setiap hari beliau berangkat pukul
5 pagi setelah sholat subuh dan pulang ke rumah pukul 9 malam karena setelah
jam kerja beliau masih bekerja sampingan sebagai petugas kebersihan di
kantornya. Itupun masih ditambah menempuh perjalanan dengan sepeda anginnya
sepanjang 15 km untuk sampai di rumah dan bertemu dengan istri serta keenam
anaknya. Dengan gaji yang sebatas UMR maka tidak mungkin cukup untuk memenuhi
kebutuhan 8 orang yang menjadi tanggungannya di kota besar dengan harga segala
kebutuhan yang selangit.
Sungguh ironis ternyata
di balik kota Jakarta yang disebut sebagai ibukota yang metropolitan dari
sebuah negara yang kaya akan hasil bumi masih terselip orang seperti beliau
dengan anak yang banyak di masa program keluarga berencana dilaksanakan, bahkan
jarak antara setiap anak hanya setahun yang berarti saat anak yang lebih tua
masih berumur 3 bulan sang ibu sudah mengandung sang adik. Saat masa nifas sang
ibu baru berakhir serta sang kakak sedang rakus-rakusnya menghisap asi sudah
harus berbagi dengan adik yang masih dalam kandungan. Maklumlah tak ada hiburan
dalam rumah sempit di gang kecil itu yang bisa membuat tuan rumah terjaga,
akibatnya ya itulah hiburan lain yang menghasilkan buah hati.
Aku kini sudah tiba di
Jakarta dan berada dalam bis kota jurusan Gambir – Kampung Rambutan. Walaupun
ada berbagai jurusan yang berbeda namun kondisi semua bis kota sama-sama tidak
nyaman dan tidak aman. Bis kota yang penuh sesak penumpang ternyata bukan hanya
siksaan bagi penumpang tapi juga memberikan kehidupan yang belum bisa dianggap
layak bagi para awak bis yang menggantungkan hidup darinya. Gambar kusam
kehidupan bukan hanya penumpang yang berhimpitan tanpa rasa nyaman dan aman,
masih banyak gambar kehidupan yang lebih kusam lagi dari sebuah bis kota.
Sidoarjo,
Oktober 2008
Diana
Puspitasari
No comments:
Post a Comment