Ana terkesiap ketika pak guru mengucapkan sesuatu yang membuat perasaannya sebagai
seorang anak masgul, antara heran, ingin marah, tersinggung.
“
Sebenarnya jangan-jangan kamu tidak punya bapak ya???” perasaan Ana sebagai seorang
anak yatim mulai lahir yang tidak pernah bertemu dengan figur seorang bapak
merasa sangat jengkel, marah, tersinggung, sekaligus heran dengan pertanyaan
pak guru yang selama ini sangat mengandalkannya dan juga sangat disegani. Rasa
hormat terhadap pak guru sekaligus
menguap dengan meninggalkan bekas goresan luka di hati gadis kecil itu.
Selama ini pak guru sangat mengandalkannya karena kepandaian Ana yang terbukti dengan predikat sebagai juara bertahan rangking satu di kelas. Sebagai seorang murid yang diandalkan Ana merasa sangat dekat dengan pak guru yang menjadi wali kelas sejak kelas lima sampai enam sekolah dasar. Kedekatan dengan pak guru seperti menghilangkan semua kecurigaan dan prasangka buruk yang mungkin timbul.
Tapi dengan pertanyaan yang
baru didengarnya rasanya sirna semua rasa percaya yang dimiliki.
Ana ingin marah namun masih
menghormatinya. Ana ingin membela bunda yang telah membesarkan sebagai seorang
orangtua tunggal.
Dijawabnya pertanyaan pak
guru dengan bantahan yang diucapkan dengan nada bergetar.
“ Aku punya bapak, bahkan
keluarga bapakku sangat memperhatikanku dan sering mengunjungiku”
Ana mengacuhkan tatapan
curiga yang mengandung cemooh dan rasa iba teman-teman sekelasnya. Bagaimana
tidak pak guru mengucapkan sebuah pertanyaan yang menyakitkan disela-sela mengerjakan
tugas di kelas.
Ingin rasanya Ana menangis,
namun buat apa karena menangis hanya akan memperkuat tuduhan pak guru. Ana ingin
terlihat kuat meskipun hatinya menangis. Begitu teganya pak guru yang dihormati
dan disegani menuduhklebih tepatnya tuduhan yang sangat hina bagi bundanya. Ya Ana
harus kuat meskipun aku sakit hati dan ingin menangis sekerasnya menumpahkan
perasaan. Tuduhan yang hina buat bunda dan sangat tidak berperasaan.
Selama hidup Ana memang
tidak pernah bertemu dan mengenal bapaknya, meskipun wajahnya banyak mewarisi
profil sang bapak. Bagaimana tidak bapak meninggal saat Ana baru lahir berumur
dua hari. Bapak yang tidak pernah dilihatnya itu meninggal karena kecelakaan
lalu lintas saat bertugas menjaga ujian di sebuah perguruan tinggi negeri di
kota kelahiran Ana. Meskipun Ana tidak pernah melihat apalagi bertemu
dengannya, namun nama yang disandang sekarang adalah pemberiannya. Nama yang
tertulis dibalik kartu nama bapak. Kartu itu tergeletak di meja sebelah ranjang
di kamar rawat rumah sakit tempat bunda melahirkan.
Tunggu cerita selanjutnya…
No comments:
Post a Comment