Tuesday, 21 February 2012

Akupun Punya Bapak (Bagian 1)

           Ana terkesiap ketika pak guru mengucapkan sesuatu yang membuat perasaannya sebagai seorang anak masgul, antara heran, ingin marah, tersinggung.
            “ Sebenarnya jangan-jangan kamu tidak punya bapak ya???” perasaan Ana sebagai seorang anak yatim mulai lahir yang tidak pernah bertemu dengan figur seorang bapak merasa sangat jengkel, marah, tersinggung, sekaligus heran dengan pertanyaan pak guru yang selama ini sangat mengandalkannya dan juga sangat disegani. Rasa hormat  terhadap pak guru sekaligus menguap dengan meninggalkan bekas goresan luka di hati gadis kecil itu.
             


         
          Selama ini pak guru sangat mengandalkannya karena kepandaian Ana yang terbukti dengan predikat sebagai juara bertahan rangking satu di kelas. Sebagai seorang murid yang diandalkan Ana merasa sangat dekat dengan pak guru yang menjadi wali kelas sejak kelas lima sampai enam sekolah dasar. Kedekatan dengan pak guru seperti menghilangkan semua kecurigaan dan prasangka buruk yang mungkin timbul.
Tapi dengan pertanyaan yang baru didengarnya rasanya sirna semua rasa percaya yang dimiliki.
Ana ingin marah namun masih menghormatinya. Ana ingin membela bunda yang telah membesarkan sebagai seorang orangtua tunggal.
Dijawabnya pertanyaan pak guru dengan bantahan yang diucapkan dengan nada bergetar.
“ Aku punya bapak, bahkan keluarga bapakku sangat memperhatikanku dan sering mengunjungiku”
Ana mengacuhkan tatapan curiga yang mengandung cemooh dan rasa iba teman-teman sekelasnya. Bagaimana tidak pak guru mengucapkan sebuah pertanyaan yang menyakitkan disela-sela mengerjakan tugas di kelas.
Ingin rasanya Ana menangis, namun buat apa karena menangis hanya akan memperkuat tuduhan pak guru. Ana ingin terlihat kuat meskipun hatinya menangis. Begitu teganya pak guru yang dihormati dan disegani menuduhklebih tepatnya tuduhan yang sangat hina bagi bundanya. Ya Ana harus kuat meskipun aku sakit hati dan ingin menangis sekerasnya menumpahkan perasaan. Tuduhan yang hina buat bunda dan sangat tidak berperasaan.
Selama hidup Ana memang tidak pernah bertemu dan mengenal bapaknya, meskipun wajahnya banyak mewarisi profil sang bapak. Bagaimana tidak bapak meninggal saat Ana baru lahir berumur dua hari. Bapak yang tidak pernah dilihatnya itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat bertugas menjaga ujian di sebuah perguruan tinggi negeri di kota kelahiran Ana. Meskipun Ana tidak pernah melihat apalagi bertemu dengannya, namun nama yang disandang sekarang adalah pemberiannya. Nama yang tertulis dibalik kartu nama bapak. Kartu itu tergeletak di meja sebelah ranjang di kamar rawat rumah sakit tempat bunda melahirkan.
Tunggu cerita selanjutnya…

No comments:

Post a Comment