Sebenarnya apa hubungan antara sebuah gerobak bakso dengan kepedulian sosial?
Jika tidak mengalami sendiri, dan kemudian karena masih dalam tahap belajar, maka aku mencoba untuk berpikir kritis pada setiap kejadian yang kutemui (supaya bisa jadi tulisan menarik, itu juga kalau menarik dan ada yang mau baca juga...)
Siang itu, di akhir pekan atau tepatnya hari Sabtu yang lalu aku menunggu anakku yang mengunjungi temannya yang baru khitan di sebuah gang sempit. Aku sengaja tidak turun dari kendaraan karena tempat parkir yang tidak nyaman di depan pagar rumah orang. Aku khawatir mengganggu sehingga jika aku tetap dalam kendaraan, karena kupikir akan lebih cepat aku memindahkan kendaraan jika ada yang akan lewat atau keluar-masuk.
Tiba saatnya aku akan pergi dari gang sempit itu, aku harus menyetir zig-zag karena beberapa mobil pemilik rumah juga diparkir zig zag.
Tak kuduga setelah harus berjalan zig zag tepat di depanku berdiri sebuah gerobak bakso yang ditinggalkan si empunya. Yang tampak hanyalah si pembeli seorang ibu hamil yang tentunya tidak mungkin mendorong minggir gerobak bakso itu.
Kutunggu sebentar sambil mencari-cari si tukang bakso.
Yang muncul justru seorang bapak yang juga pembeli dan dengan tak peduli segera masuk kembali, karena si bapak kuatir jika harus memindahkan gerobak akan menggulingkan berobak tersebut.
"Yah caranya donk pak," pikirku
Kembali tinggalah aku sendiri.
Akhirnya tanpa malu kutarik gerobak tersebut yang ternyata juga tidak sampai menggulingkan seperti yang dikuatirkan bapak yang tadi.
"Sebenarnya kuatir, gak kuat, malu, atau gak peduli?" tapi kurasa alasan yang terakhir paling tepat sebab pada kenyataannya gerobak bakso itu tidak berat dan tidak perlu malu untuk berbuat sesuatu untuk kepetingan orang banyak. Mengingat di belakangku juga telah antri dua mobil yang juga tertutup jalan oleh sebuah gerobak bakso dan orang yang tidak peduli.
No comments:
Post a Comment